Labels

Minggu, 10 Juni 2012

Pesantren Di Persimpangan Jalan


Kehidupan yang semakin kompetitif, budaya materialisme, individualisme dan hedonisme yang semakin menggejala adalah kenyataan yang akan kita hadapi ditahun-tahun mendatang. Pesantren sebagai lembaga yang independen mau tidak mau suka tidak suka akan terkena dampak dari semua itu. Menarik untuk disimak bagaimana pesantren sebagai institusi pendidikan yang tertua di negeri ini menyikapi berbagai perubahan dunia tersebut. Bagaimana pesantren mempersiapkan para santrinya untuk mampu bersaing dengan tamatan sekolah umum.
Pesantren sebagaimana telah disebut adalah institusi pendidikan tertua dinegeri ini. Ia sudah ada jauh sebelum pemerintah kolonial memperkenalkan pendidikan ala barat seperti sekarang. Sungguh sebuah prestasi ketika pesantren mampu bertahan dan sejak lama telah mencetak manusia-manusia unggul yang tidak kalah dari sekolah pemerintah. Banyak orang besar di negara ini yang menjadi tamatan pesantren. Sampai sekarangpun pesantren tetap eksis dan menjadi pilihan.
Namun jika disimak lebih dekat terdapat pergeseran pesantren dulu dan sekarang. Seperti diketahui salah satu ciri yang melekat pada pesantren adalah kemandirian. Pesantren umumnya menggantungkan hidupnya pada pemerintah. Mereka biasanya mampu menghidupi dirinya sendiri dengan swadaya masyarakat atau melalui berbagai unit usaha yang dikelolanya. Sebuah pesantren biasanya memiliki tanah yang siap untuk digarap, kebun, areal peternakan atau berbagai unit usaha kerajinan. Itu semua menjadi modal yang menghidupi sebuah pesantren. Kemandirian pesantren tidak hanya milik pesantren itu sendiri melainkan juga milik santrinya. Santri diajar untuk mandiri, mereka diajar utnuk berusaha menghidupi dirinya, mereka dibekali dengan berbagai keterampilan utamanya yang ada dipesantren.
Bentuk lain dari kemandirian yang ditanamkan pada diri santri adalah keyakinan pada diri sendiri. Keberanian untuk mencoba hal yang baru serta penggambaran bagaimana hinanya seseorang yang menjadi tanggungan orang lain. Santri juga diajar untuk menggunakan seluruh potensi yang ada pada dirinya untuk kembaikan diri sendiri dan ummat. Hasilnya dapat dilihat bahwa sebagian besar tamatan pesantren tumbuh sebagi pribasdi yang mandiri. Mereka tidak pusing mencari kerja, walau tidak melanjutkan pendidikan tetapi mereka mampu menghidupi dirinya sendiri. Merekapun bisa berbaur dengan masyarakatnya.
Kemandirian adalah sesuatu yang mulai hilang dari pesantren. Mungkin pesantren masih sanggup membiayai dirinya sendiri. Mungkin pesntren masih mempunyai tanah yang luas, kebun punya peternakan. Namun pesantren telah kehilangan kemandirian santrinya. Hal ini sudah dimulai ketika pesantren mulai mematok harga dan mematok santri. Uang masuk mencapai jutaan melabihi uang masuk diperguruan tinggi. Santri pun muai dipilih yang pintar-pintar saja. Intinya adalah yang pintar dan berduit. Keadaan seperti itu tentu saja memberikan konsekuensi berbeda. Santri yang masuk dan diterima adalah mereka yang harus dilayani segala keperluaannya, makannya tidak boleh kurang, gizi harus tercukupi, fasilitas dilengkapi, kesehatan terpantau. Pokoknya tugas santri hanyalah belajar dan belajar. Karena mereka telah membayar cukup mahal maka tidak ada kewajiban harus mengerjakan ini dan itu. Kesan yang timbul adalah mereka dimanja dengan segala fasilitas.
Berkurangnya kemandirian santri juga telihat dalam pergaulan mereka dengan masyarakatnya. Kehidupan yang terpisah sekian tahun secara tidak langsung telah membuat mereka menjadi sedikit terasing dari masyarakatnya. Sesekali keluar dari lingkungan pesantren mereka terlihat linglung tidak tentu harus berbuat apa. Bahkan ada kesan sombong dan tidak mau tau.
Sementara dari sudut keilmuan pesantren hari ini mencoba menggabung tuntutan dunia kerja dan dunia yang semakin kompetitif dengan ilmu agama yang menjadi tren mark pesantren selama ini. Usaha ini tidak sulit mereka lakukan karena santri yang diajar sudah terseleksi.Santri sedari awal sudah dirancang untuk dapat diterima di perguruan tinggi favorit. Para santri dibekali dengan sains dan teknologi. Disisi lain pesantren juga mengharapkan santri mereka memahami dengan baik ilmu-ilmu agama. Disini terlihat kegamangan pesantren manakah yag lebih didahulukan sains atau agama. Tuntutan kuikulum membuat santri membutuhkan waktu lebih banyak untuk bertkutat dengan ilmu umum, sementara ilmu agama yang akan dipelajari juga banyak dan penting serta membutuhkan perhatian yang tidak bisa setengah-setengah. Akan dibawa kemana santri?ke Jerman atau ke Mekkah
Tidak semua pesantren bisa ke Jerman atau ke Mekkah. Banyak malah diantara mereka yang tidak tahu harus kemana atau tidak bisa kemana-mana. Beragam persoalan dihadapi pesantren ini mulai dari masalah klasik kekurangan biaya operasional, kekurangan tenaga guru sampai kekurangan siswa. Tidak sedikit pula pesantren yang gulung tikar karena persoalan tersebut
Lepas dari semua itu seungguhnya pesantren adalah solusi dari persoalan penddidikan kta saat ini.Jjika dikatakan ada pendidikan berkarakter maka pesantrenlah wadah yang tepat untuk pendidikan berkarakter itu. Jika dikatakan pendidikan harus mampu menumbuhkan jiwa atau semangat kewirausahaan maka tidak ada yang akan membantah pesantren telah lama memulainya. Persoalannya sekarang pesantren haruslah istqomah dengan kemandiriannya. Santri mesti pula kembali diajar untuk mandiri. Buat apa kepintaran tatapi kemudian mereka kebingungan setelah tamat. Untuk apa kuliah di universitas ternama jika kelmudian hanya menjadi pengawai di perusahaan asing. Untuk apa kuliah sampai ke Timur Tengah sana jika kemuadian hanya menjadi guru yang tidak mandiri, yang juga disibukkan untuk mengurus database agar diangkat sebagai PNS. Sekali lagi kemandirian. Pesantren tidak perlu latah dengan kecendrungan masyarakat yang menginginkan anaknya menjadi pegawai seolah tidak ada lagi pekerjaan lain. Pesantren pun tidak perlu kuatir lulusannya tidak mampu bersaing denga tamatan sekkolah umum. Denga bekal kemandirian dan semangat kewirausahaan yang dilatih maka lulusan pesantren akan mampu hidup dan menghidupi dirinya tanpa tergantung pada orang lain.       

Sabtu, 31 Desember 2011

Segudang Manfaat Jalan-jalan


Untuk mengisi liburan semester akhir tahun 2011 ini anggota KIR sepakat untuk mengadakan perjalanan ke Kerinci Propinsi Jambi. Dilihnya Kerinci karena yang eprtam kami belum pernah kesan, kedua dian, husnul dan Aqina tinggal disana jadi ad tempat untuk menginap, ketiga kita ingin agak berbda sedikit yakni keluar sumbar. Setelah pembagian rapaor, sekitar jam 1.30 Vadhel dan Dian datang menemui saya dan bertanya soal pasti tidaknya kita berabgkat, dengna yakin saya jawab iya, kit angumpul nanti. Setiba diasrama saya memanggil anggota yang akan pergi dan bertanya soal kendaraan yang akan dipakai. Tidak seorang pun yang mencari, ketua Ahmad Efendi yang ditugaskan menanyai Pak Jun rupanya malah menyuruh Rendi. Dari Rendi didapat info bahwa Pak Jun meminta saya pribadi sebagai pembina yang harus bertanya soal ini. Sore itu kami mencari-cari Pak jun, disma beberap kali tidak nyambung, Pendi, Vadhel dan anggota yang akan pergi mulai gelisah, kecuali Dian ia tenang-tenang saja, soalanya pasti yakin ia berangkat, kampungnya sih. Sebetulnya dari awal sudah terlihat bahwa Ketua KIR tidak ingin menyisihkan waktunya untuk acara ini, jadi tidak sungguh-sungguh memikirkannya apalagi mengusahakannya. Akhirnya terbukti, ketika kejelasan mobil belum didapat, diam-diam Pendi ang Ketua pergi tanpa pamit. Sungguh sebuah sikap yang sangat tidak memperlihatkan tanggungjawab seorang pemimipin.
Menjelang sore akhirnya kami bertemu Pak Jun dan dapat kabar bahwa oto beliau tidak bisa digunakan karrena mati pajak, sementara yang pic up tidak berani menjalankannya karena bukan mobil penumpang. Kami kecewa, tapi kemudian pak Jun meminta Depi mencarikan, kata Depi mobil anyak tingga akngo-angkonyo lai, ok kamis epakat menyumbang 50 ribu seorang 300ribu disubsidi KIR, selebihnya aya. Ok lah. Ternyat aampai sorenya mobil yang dicari Depi tidak kunjung daatnag, sampai magrib. Sampai saat itu yang jelas akan berangkat adalah saya sendiri, Vadehel, Dian, Bambang, Rahmat, Marianto, Rendi. One kemudian mengatakan juga ingin pergi, semesntara Risa sudah sejak hari Kamis mengatakan ingin bergabung, yang 9 orang. Esudah magrib kami beertemu di kantor, asrama telah lengangan yang membuat hati Vadhel semakin kecut, tiap sebentar bertanya baa ko lai buk baa ko lai buk. Aya yakinkan bahwa bagaimanapun kita harus berangkat, sesuatu yang sudah direncanakan terlalu menyakitkan untuk dibatalkan begitu saja. Rendi dan Vadhel sudah berkeliling mencari mobil tetapi nihil. Sesudah makan kami membuat kemungkinan lain jika tidak malam itu maka besok akan berangkat tapi dengan mobil pick up ambek-ambek dijalan, libur gratis ala XL. Ketika Vahel dan rendi mencari mobil ke impang Kantor Camat, datang telpon dari Bapaknya Rendi bahwa mobilny siap untuk dipakai, tinggal koling. Akhirnya singkat cerita kami berangkat dengan mobil carry muilik Bapaknya Rendi. Berangkat jam 10.30. one yang sudah ganti kostum tidur pun dibangunkan Vadhel, dan berangkat. 9 orang berangkat, dibelakang perempuan semua, sempir sebenarnya ya tentu saja, yang duduk yang langsing-langsing kayak Dian jo one. Ttapi dhati saja diperlapang.
Perjalanan malam itru kami menfaatkan melihat apa yang dilakukan para pemuda menyembut pergantian tahun. Digalagah sekelompok pemuda membakar ban, dan mengelilinginya sampai jingkrak-jingkrak yang meningatkan saya kepada msyarakat majusi yang menembah api. Mereka berjogert diiringi musik keras. Tidak jauh dari sana terlihat lagi pemangdangan yang sama. Muncul pertanyaan dikepala saya ketika itu apa artinya tahun batru buat mereka?kok begitu gembira tahun berganti?tidakkah itu hnayalah hal bisa yang justru menandakan umur semekain bertambah?saya jamin mereka yang merayakan tahun baru banyak yang tidak shalat subuh esoknya, pasti mereka terkapatr, sukur-sukur ditempat tiur lebih mengenaskan lagi tertidur mabuk ditempat yang tidak layak, so apa artinya tahun baru?tahun harapakah yang denmikian, diawal tahunnya aja sudah mabuk, tidak solat atau terlambat shalat.
Entahlah yang jelas peringatahan bpergantian tahun yang nota benenya bukan ajaran Islam itu sering disalahgunakan. Jam 3 kami sampai di Padang Aro, perjalanan tidak bisa diteruskan karena pak sopir takut bensin tidak cukup, oya menjelang Padang Aro tepatnya diPekan Salasa kecek Risa entah dari manyo tau kerana suasana gelap mobil kami kempes ban, ya terpaksa diganti ban serap, kami keluar duduk diaspal dan menatap langit penuh bintang, cerah sekali malam itu, banyak bintang dilangirt, keluar seolah ikut merayakan tahun baru. Dari tempat kami duduk itu terdengan air sungai menderu, ah negeri seribu iungai. Kami terpaksa tidur di dekat rumah makan ungai Kalu, sudah tutp. Vadhel dan kawan-kawan diusir one tidur dimusalla kami di mobil, dingin menusuk tulang, punggung saya tak berasa punggung, kaku, coba diluruskan susah juga karena mobil crry itu terlalu kecil , ya terpaksa bersabar, mudah-mudahan cepat sampai. Menejlang subuh kami berangkat lagi, saya tidak tahu pasti dimana pak sopir mengisi bensinkarena terkantuk-kantuk ayam. Yang jela satu hal sampai jam 5.30kami belumj shalat subuh, saya dan Risa gelisah ini mobil kok dak berhenti, dimana kita akn shalat subuh ddiluar susana perlahan terang,, kami makin cemas, berkali-kali bilang didini sajam, dini saja, sampai di dekat jembatan sopir berhenti, dibawah jembatan itu ada pincuran kecil yang sepertinya bisa diupakai oleh mereka yang tasasak kajamban. Disna ditemukan juga popok anak kecil, mungkin ada anak yang eek dan sang ibu mengganti popok anaknya disana. Kami semua selesai shalat mengengadah ke atas tampaklah gunung Kerinci yang botak dan tandus bagian atasnya, indah sekali.
Perasan lega setelah menunaikan shalat subuh membuat perjalanan sedikit lebih menyenangkan, sekitar jam 6.30 kami sampai di Ait terjun berasap, Telun berasap, kami berhenti dan masuk kesana, ternyata digerbangnya itu tertulis selamat datang di Taman nasional Kwerinci Sebelat, oo ini yang TNKS yang terkenal itu, sya gembita karena sudah lama ingin melihat betul bagimana yang TNKS yang menghebohkan dunia itu. Bahgian depan TNKS ditumbuhi bunga-biunga berwarna warni, indah, dari sana gunung Krinci yang menjulang tinggiterlihat semakin menarik, guniung itu berdiri kokoh dan perkasa. Jalan masuk menuju Air tejun ditemboki dengan rapi, saya terkesan dengan kesungguhna pemerintah Kerinci mengelola dan merawat TNKS itu. Tangga menurun jauh ke bawah dibuat rapi, ada dua bagian, yang satunya sudah lama dan usang, berlumut yang satunya dengan arah yang berbeda sedikit lebih baru, tuturnyya kami mamkai tangga yanglaa ternyata jauh, one lah sagak sasak angok mengikuti kami yang masih muda, samapi di bagian terbawah tampak ait terjun yang besar sekali aitrnya sehingga saking besarnya air itu menegeluarkan kabut air yang dari kejuhan seperti asap, pemerintah membangun padian terbawan bangunan beratp yang lebar agar pengunjung dapat menyaksikan dengna leluasa air tejun tersebut, wah senang sekali hati kami melihat air terjun itu, tersa mengobati kelelahan diatas mobil, hilang subhanallah.Sayang sekali kamdik yang saya bawa kehabisan batrai terpaksa momen air terjun tidak ersimpan. Setelah puas menyaksikan kebesan Illahi tersebut kami naik melalui tangga baru dan berhenti pada salah atu bangunan bertatp yang ditembok pinggirnya berfungsi sebagai tempat duduk, kami makan goreng hangat nikmatnya.
Sampai diats kembali kami ditegur oleh seorang perempuan dari mana katanya kami jawab masuk ke sini bayar dik, 10000 sajalah kata seorang laki-laki mungkin suami si perempuan. Kami yang nmembersihkan bagian dalam tu mah kata perempuan itu lebih lanjut. Kami beru terbebas dari tagihan itu setelah bambang mengatakan saya orang sini mask bayar juga. Perjalanan dilanjutkan hati senang bukan main karena melihat Air Terjun berasap, kami sampai di Pelompek dan pak sopir memutuskan untuk menmbal ban yang bocor tadi malam, prosesnya lama sekali, saya dan risa memilih berjalan-jalan melihat-lihat kerinci, Pelompek, kebetuan kami berhenti ditepi jalan yang cukup ramai, dikiri kanan jalan ada berdiri deretan toko menjual aneka ragam kebutuhan.saya mencari batrei alkaline untuk kamereka digital, tapi mungkin sudah 15 toko tidak ad yang tahu batrei alkaline itu, ada satu toko conter hp yang memberi harap tapi katanya habis, pikir-pikir masak orang sini tidak kenal batrei alkaline, saya orangnya toidak percaya begitu saja, makanya bela-belain menanya ke sekian banyak toko. Nihil.
Setelah cukup lama menunggu akhirnya mobil kami berangkat, hari sudah menunjukkan pyukul 9 wah mungkin tidak bertemu Aqina nih pikir kami. Mobil berjalan dikiri kananya hamparan permadani kebun teh yang dibawahoi PTPN 6 kabarnya kebun itu sudah ditanam sejak zaman Belanda, indah sekali. Dihamparan kebun teh itu menulang gunung kewrinci yang menarik hati untuk didaki, kapan-apan deh. Memasuki pusat kayu Aro terlihat kantor-kantor pemerintah, tidak terkecuali pabrik teh PTPN 6. Selepas pasar yang sedikir macet karena memang hari Minggu itu hari pasar di Kayu Jao kami sampai di Bedeng VIII tempat Dian dan Aqina dan Husnul. Wah itu pasti mobilnya Aqina kata Dian , kami kemuan memutuskan berjalan kai. Memang benar itu Aqina ya mau berangkat, untung saja ketemuan, ya sudah kami datang Aqina pergi. Kami disambut dengna ramah oleh keluarga Dian dan Aqina disuguhi gorengan yang dimakan tanpa mau-malu oleh Vadhel dan bambang, kelaparan.