Untuk mengisi
liburan semester akhir tahun 2011 ini anggota KIR sepakat untuk mengadakan
perjalanan ke Kerinci Propinsi Jambi. Dilihnya Kerinci karena yang eprtam kami
belum pernah kesan, kedua dian, husnul dan Aqina tinggal disana jadi ad tempat
untuk menginap, ketiga kita ingin agak berbda sedikit yakni keluar sumbar.
Setelah pembagian rapaor, sekitar jam 1.30 Vadhel dan Dian datang menemui saya
dan bertanya soal pasti tidaknya kita berabgkat, dengna yakin saya jawab iya,
kit angumpul nanti. Setiba diasrama saya memanggil anggota yang akan pergi dan
bertanya soal kendaraan yang akan dipakai. Tidak seorang pun yang mencari,
ketua Ahmad Efendi yang ditugaskan menanyai Pak Jun rupanya malah menyuruh
Rendi. Dari Rendi didapat info bahwa Pak Jun meminta saya pribadi sebagai
pembina yang harus bertanya soal ini. Sore itu kami mencari-cari Pak jun, disma
beberap kali tidak nyambung, Pendi, Vadhel dan anggota yang akan pergi mulai
gelisah, kecuali Dian ia tenang-tenang saja, soalanya pasti yakin ia berangkat,
kampungnya sih. Sebetulnya dari awal sudah terlihat bahwa Ketua KIR tidak ingin
menyisihkan waktunya untuk acara ini, jadi tidak sungguh-sungguh memikirkannya
apalagi mengusahakannya. Akhirnya terbukti, ketika kejelasan mobil belum
didapat, diam-diam Pendi ang Ketua pergi tanpa pamit. Sungguh sebuah sikap yang
sangat tidak memperlihatkan tanggungjawab seorang pemimipin.
Menjelang sore
akhirnya kami bertemu Pak Jun dan dapat kabar bahwa oto beliau tidak bisa
digunakan karrena mati pajak, sementara yang pic up tidak berani menjalankannya
karena bukan mobil penumpang. Kami kecewa, tapi kemudian pak Jun meminta Depi
mencarikan, kata Depi mobil anyak tingga akngo-angkonyo lai, ok kamis epakat
menyumbang 50 ribu seorang 300ribu disubsidi KIR, selebihnya aya. Ok lah. Ternyat
aampai sorenya mobil yang dicari Depi tidak kunjung daatnag, sampai magrib.
Sampai saat itu yang jelas akan berangkat adalah saya sendiri, Vadehel, Dian,
Bambang, Rahmat, Marianto, Rendi. One kemudian mengatakan juga ingin pergi,
semesntara Risa sudah sejak hari Kamis mengatakan ingin bergabung, yang 9 orang.
Esudah magrib kami beertemu di kantor, asrama telah lengangan yang membuat hati
Vadhel semakin kecut, tiap sebentar bertanya baa ko lai buk baa ko lai buk. Aya
yakinkan bahwa bagaimanapun kita harus berangkat, sesuatu yang sudah
direncanakan terlalu menyakitkan untuk dibatalkan begitu saja. Rendi dan Vadhel
sudah berkeliling mencari mobil tetapi nihil. Sesudah makan kami membuat
kemungkinan lain jika tidak malam itu maka besok akan berangkat tapi dengan
mobil pick up ambek-ambek dijalan, libur gratis ala XL. Ketika Vahel dan rendi
mencari mobil ke impang Kantor Camat, datang telpon dari Bapaknya Rendi bahwa
mobilny siap untuk dipakai, tinggal koling. Akhirnya singkat cerita kami
berangkat dengan mobil carry muilik Bapaknya Rendi. Berangkat jam 10.30. one
yang sudah ganti kostum tidur pun dibangunkan Vadhel, dan berangkat. 9 orang
berangkat, dibelakang perempuan semua, sempir sebenarnya ya tentu saja, yang
duduk yang langsing-langsing kayak Dian jo one. Ttapi dhati saja diperlapang.
Perjalanan malam
itru kami menfaatkan melihat apa yang dilakukan para pemuda menyembut
pergantian tahun. Digalagah sekelompok pemuda membakar ban, dan mengelilinginya
sampai jingkrak-jingkrak yang meningatkan saya kepada msyarakat majusi yang
menembah api. Mereka berjogert diiringi musik keras. Tidak jauh dari sana
terlihat lagi pemangdangan yang sama. Muncul pertanyaan dikepala saya ketika
itu apa artinya tahun batru buat mereka?kok begitu gembira tahun
berganti?tidakkah itu hnayalah hal bisa yang justru menandakan umur semekain
bertambah?saya jamin mereka yang merayakan tahun baru banyak yang tidak shalat
subuh esoknya, pasti mereka terkapatr, sukur-sukur ditempat tiur lebih
mengenaskan lagi tertidur mabuk ditempat yang tidak layak, so apa artinya tahun
baru?tahun harapakah yang denmikian, diawal tahunnya aja sudah mabuk, tidak
solat atau terlambat shalat.
Entahlah yang
jelas peringatahan bpergantian tahun yang nota benenya bukan ajaran Islam itu
sering disalahgunakan. Jam 3 kami sampai di Padang Aro, perjalanan tidak bisa
diteruskan karena pak sopir takut bensin tidak cukup, oya menjelang Padang Aro
tepatnya diPekan Salasa kecek Risa entah dari manyo tau kerana suasana gelap
mobil kami kempes ban, ya terpaksa diganti ban serap, kami keluar duduk diaspal
dan menatap langit penuh bintang, cerah sekali malam itu, banyak bintang
dilangirt, keluar seolah ikut merayakan tahun baru. Dari tempat kami duduk itu
terdengan air sungai menderu, ah negeri seribu iungai. Kami terpaksa tidur di
dekat rumah makan ungai Kalu, sudah tutp. Vadhel dan kawan-kawan diusir one
tidur dimusalla kami di mobil, dingin menusuk tulang, punggung saya tak berasa
punggung, kaku, coba diluruskan susah juga karena mobil crry itu terlalu kecil
, ya terpaksa bersabar, mudah-mudahan cepat sampai. Menejlang subuh kami
berangkat lagi, saya tidak tahu pasti dimana pak sopir mengisi bensinkarena
terkantuk-kantuk ayam. Yang jela satu hal sampai jam 5.30kami belumj shalat
subuh, saya dan Risa gelisah ini mobil kok dak berhenti, dimana kita akn shalat
subuh ddiluar susana perlahan terang,, kami makin cemas, berkali-kali bilang
didini sajam, dini saja, sampai di dekat jembatan sopir berhenti, dibawah
jembatan itu ada pincuran kecil yang sepertinya bisa diupakai oleh mereka yang
tasasak kajamban. Disna ditemukan juga popok anak kecil, mungkin ada anak yang
eek dan sang ibu mengganti popok anaknya disana. Kami semua selesai shalat
mengengadah ke atas tampaklah gunung Kerinci yang botak dan tandus bagian
atasnya, indah sekali.
Perasan lega
setelah menunaikan shalat subuh membuat perjalanan sedikit lebih menyenangkan,
sekitar jam 6.30 kami sampai di Ait terjun berasap, Telun berasap, kami
berhenti dan masuk kesana, ternyata digerbangnya itu tertulis selamat datang di
Taman nasional Kwerinci Sebelat, oo ini yang TNKS yang terkenal itu, sya
gembita karena sudah lama ingin melihat betul bagimana yang TNKS yang
menghebohkan dunia itu. Bahgian depan TNKS ditumbuhi bunga-biunga berwarna
warni, indah, dari sana gunung Krinci yang menjulang tinggiterlihat semakin
menarik, guniung itu berdiri kokoh dan perkasa. Jalan masuk menuju Air tejun
ditemboki dengan rapi, saya terkesan dengan kesungguhna pemerintah Kerinci
mengelola dan merawat TNKS itu. Tangga menurun jauh ke bawah dibuat rapi, ada
dua bagian, yang satunya sudah lama dan usang, berlumut yang satunya dengan
arah yang berbeda sedikit lebih baru, tuturnyya kami mamkai tangga yanglaa
ternyata jauh, one lah sagak sasak angok mengikuti kami yang masih muda, samapi
di bagian terbawah tampak ait terjun yang besar sekali aitrnya sehingga saking
besarnya air itu menegeluarkan kabut air yang dari kejuhan seperti asap,
pemerintah membangun padian terbawan bangunan beratp yang lebar agar pengunjung
dapat menyaksikan dengna leluasa air tejun tersebut, wah senang sekali hati
kami melihat air terjun itu, tersa mengobati kelelahan diatas mobil, hilang
subhanallah.Sayang sekali kamdik yang saya bawa kehabisan batrai terpaksa momen
air terjun tidak ersimpan. Setelah puas menyaksikan kebesan Illahi tersebut
kami naik melalui tangga baru dan berhenti pada salah atu bangunan bertatp yang
ditembok pinggirnya berfungsi sebagai tempat duduk, kami makan goreng hangat
nikmatnya.
Sampai diats
kembali kami ditegur oleh seorang perempuan dari mana katanya kami jawab masuk
ke sini bayar dik, 10000 sajalah kata seorang laki-laki mungkin suami si
perempuan. Kami yang nmembersihkan bagian dalam tu mah kata perempuan itu lebih
lanjut. Kami beru terbebas dari tagihan itu setelah bambang mengatakan saya
orang sini mask bayar juga. Perjalanan dilanjutkan hati senang bukan main
karena melihat Air Terjun berasap, kami sampai di Pelompek dan pak sopir
memutuskan untuk menmbal ban yang bocor tadi malam, prosesnya lama sekali, saya
dan risa memilih berjalan-jalan melihat-lihat kerinci, Pelompek, kebetuan kami
berhenti ditepi jalan yang cukup ramai, dikiri kanan jalan ada berdiri deretan
toko menjual aneka ragam kebutuhan.saya mencari batrei alkaline untuk kamereka
digital, tapi mungkin sudah 15 toko tidak ad yang tahu batrei alkaline itu, ada
satu toko conter hp yang memberi harap tapi katanya habis, pikir-pikir masak
orang sini tidak kenal batrei alkaline, saya orangnya toidak percaya begitu
saja, makanya bela-belain menanya ke sekian banyak toko. Nihil.
Setelah cukup
lama menunggu akhirnya mobil kami berangkat, hari sudah menunjukkan pyukul 9
wah mungkin tidak bertemu Aqina nih pikir kami. Mobil berjalan dikiri kananya
hamparan permadani kebun teh yang dibawahoi PTPN 6 kabarnya kebun itu sudah
ditanam sejak zaman Belanda, indah sekali. Dihamparan kebun teh itu menulang
gunung kewrinci yang menarik hati untuk didaki, kapan-apan deh. Memasuki pusat
kayu Aro terlihat kantor-kantor pemerintah, tidak terkecuali pabrik teh PTPN 6.
Selepas pasar yang sedikir macet karena memang hari Minggu itu hari pasar di
Kayu Jao kami sampai di Bedeng VIII tempat Dian dan Aqina dan Husnul. Wah itu
pasti mobilnya Aqina kata Dian , kami kemuan memutuskan berjalan kai. Memang
benar itu Aqina ya mau berangkat, untung saja ketemuan, ya sudah kami datang Aqina
pergi. Kami disambut dengna ramah oleh keluarga Dian dan Aqina disuguhi
gorengan yang dimakan tanpa mau-malu oleh Vadhel dan bambang, kelaparan.