Kehidupan yang semakin kompetitif,
budaya materialisme, individualisme dan hedonisme yang semakin menggejala
adalah kenyataan yang akan kita hadapi ditahun-tahun mendatang. Pesantren
sebagai lembaga yang independen mau tidak mau suka tidak suka akan terkena
dampak dari semua itu. Menarik untuk disimak bagaimana pesantren sebagai
institusi pendidikan yang tertua di negeri ini menyikapi berbagai perubahan
dunia tersebut. Bagaimana pesantren mempersiapkan para santrinya untuk mampu
bersaing dengan tamatan sekolah umum.
Pesantren sebagaimana telah disebut
adalah institusi pendidikan tertua dinegeri ini. Ia sudah ada jauh sebelum
pemerintah kolonial memperkenalkan pendidikan ala barat seperti sekarang.
Sungguh sebuah prestasi ketika pesantren mampu bertahan dan sejak lama telah
mencetak manusia-manusia unggul yang tidak kalah dari sekolah pemerintah.
Banyak orang besar di negara ini yang menjadi tamatan pesantren. Sampai sekarangpun
pesantren tetap eksis dan menjadi pilihan.
Namun jika disimak lebih dekat
terdapat pergeseran pesantren dulu dan sekarang. Seperti diketahui salah satu
ciri yang melekat pada pesantren adalah kemandirian. Pesantren umumnya
menggantungkan hidupnya pada pemerintah. Mereka biasanya mampu menghidupi
dirinya sendiri dengan swadaya masyarakat atau melalui berbagai unit usaha yang
dikelolanya. Sebuah pesantren biasanya memiliki tanah yang siap untuk digarap,
kebun, areal peternakan atau berbagai unit usaha kerajinan. Itu semua menjadi
modal yang menghidupi sebuah pesantren. Kemandirian pesantren tidak hanya milik
pesantren itu sendiri melainkan juga milik santrinya. Santri diajar untuk
mandiri, mereka diajar utnuk berusaha menghidupi dirinya, mereka dibekali
dengan berbagai keterampilan utamanya yang ada dipesantren.
Bentuk lain dari kemandirian yang
ditanamkan pada diri santri adalah keyakinan pada diri sendiri. Keberanian
untuk mencoba hal yang baru serta penggambaran bagaimana hinanya seseorang yang
menjadi tanggungan orang lain. Santri juga diajar untuk menggunakan seluruh
potensi yang ada pada dirinya untuk kembaikan diri sendiri dan ummat. Hasilnya
dapat dilihat bahwa sebagian besar tamatan pesantren tumbuh sebagi pribasdi
yang mandiri. Mereka tidak pusing mencari kerja, walau tidak melanjutkan
pendidikan tetapi mereka mampu menghidupi dirinya sendiri. Merekapun bisa
berbaur dengan masyarakatnya.
Kemandirian adalah sesuatu yang
mulai hilang dari pesantren. Mungkin pesantren masih sanggup membiayai dirinya
sendiri. Mungkin pesntren masih mempunyai tanah yang luas, kebun punya
peternakan. Namun pesantren telah kehilangan kemandirian santrinya. Hal ini
sudah dimulai ketika pesantren mulai mematok harga dan mematok santri. Uang
masuk mencapai jutaan melabihi uang masuk diperguruan tinggi. Santri pun muai
dipilih yang pintar-pintar saja. Intinya adalah yang pintar dan berduit.
Keadaan seperti itu tentu saja memberikan konsekuensi berbeda. Santri yang
masuk dan diterima adalah mereka yang harus dilayani segala keperluaannya,
makannya tidak boleh kurang, gizi harus tercukupi, fasilitas dilengkapi,
kesehatan terpantau. Pokoknya tugas santri hanyalah belajar dan belajar. Karena
mereka telah membayar cukup mahal maka tidak ada kewajiban harus mengerjakan
ini dan itu. Kesan yang timbul adalah mereka dimanja dengan segala fasilitas.
Berkurangnya kemandirian santri
juga telihat dalam pergaulan mereka dengan masyarakatnya. Kehidupan yang
terpisah sekian tahun secara tidak langsung telah membuat mereka menjadi sedikit
terasing dari masyarakatnya. Sesekali keluar dari lingkungan pesantren mereka
terlihat linglung tidak tentu harus berbuat apa. Bahkan ada kesan sombong dan
tidak mau tau.
Sementara dari sudut keilmuan
pesantren hari ini mencoba menggabung tuntutan dunia kerja dan dunia yang
semakin kompetitif dengan ilmu agama yang menjadi tren mark pesantren selama
ini. Usaha ini tidak sulit mereka lakukan karena santri yang diajar sudah
terseleksi.Santri sedari awal sudah dirancang untuk dapat diterima di perguruan
tinggi favorit. Para santri dibekali dengan sains dan teknologi. Disisi lain
pesantren juga mengharapkan santri mereka memahami dengan baik ilmu-ilmu agama.
Disini terlihat kegamangan pesantren manakah yag lebih didahulukan sains atau
agama. Tuntutan kuikulum membuat santri membutuhkan waktu lebih banyak untuk
bertkutat dengan ilmu umum, sementara ilmu agama yang akan dipelajari juga
banyak dan penting serta membutuhkan perhatian yang tidak bisa
setengah-setengah. Akan dibawa kemana santri?ke Jerman atau ke Mekkah
Tidak semua pesantren bisa ke
Jerman atau ke Mekkah. Banyak malah diantara mereka yang tidak tahu harus
kemana atau tidak bisa kemana-mana. Beragam persoalan dihadapi pesantren ini
mulai dari masalah klasik kekurangan biaya operasional, kekurangan tenaga guru
sampai kekurangan siswa. Tidak sedikit pula pesantren yang gulung tikar karena
persoalan tersebut
Lepas dari semua itu seungguhnya
pesantren adalah solusi dari persoalan penddidikan kta saat ini.Jjika dikatakan
ada pendidikan berkarakter maka pesantrenlah wadah yang tepat untuk pendidikan
berkarakter itu. Jika dikatakan pendidikan harus mampu menumbuhkan jiwa atau
semangat kewirausahaan maka tidak ada yang akan membantah pesantren telah lama
memulainya. Persoalannya sekarang pesantren haruslah istqomah dengan
kemandiriannya. Santri mesti pula kembali diajar untuk mandiri. Buat apa
kepintaran tatapi kemudian mereka kebingungan setelah tamat. Untuk apa kuliah
di universitas ternama jika kelmudian hanya menjadi pengawai di perusahaan
asing. Untuk apa kuliah sampai ke Timur Tengah sana jika kemuadian hanya
menjadi guru yang tidak mandiri, yang juga disibukkan untuk mengurus database
agar diangkat sebagai PNS. Sekali lagi kemandirian. Pesantren tidak perlu latah
dengan kecendrungan masyarakat yang menginginkan anaknya menjadi pegawai seolah
tidak ada lagi pekerjaan lain. Pesantren pun tidak perlu kuatir lulusannya
tidak mampu bersaing denga tamatan sekkolah umum. Denga bekal kemandirian dan
semangat kewirausahaan yang dilatih maka lulusan pesantren akan mampu hidup dan
menghidupi dirinya tanpa tergantung pada orang lain.